PopsEra.id—Musik bukanlah hal baru bagi The Venyamin. Sejak kecil, musisi asal Padang ini sudah akrab dengan dunia tarik suara, berkat peran orang tua yang kerap mengajaknya bernyanyi di berbagai acara.
Ketertarikan tersebut terus berkembang hingga ia mengikuti sejumlah ajang menyanyi semasa SD dan SMP.
Namun, kecintaannya pada musik mulai benar-benar serius saat duduk di bangku SMA. Di masa itu, ia aktif bermain band dan mulai mendalami proses bermusik secara lebih utuh. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya hingga kini.
Dalam hal referensi musikal, The Venyamin mengaku awalnya sangat menggemari band Ungu yang populer di masanya. Seiring waktu, selera musiknya berkembang ketika ia mulai mengenal band-band luar negeri, terutama Radiohead.
Sosok Thom Yorke disebut sebagai figur yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter musikalnya, pengaruh yang hingga kini masih terasa kuat dalam karya-karya solo The Venyamin.
Karier profesionalnya di dunia musik dimulai sekitar tahun 2014, saat ia menempuh pendidikan di bangku kuliah.
Kala itu, ia tergabung dalam band Happysoda yang hingga kini masih aktif sebagai homeband, meskipun tengah rehat dari produksi karya baru.
Dorongan untuk mengeksplorasi ide musikal yang lebih personal kemudian membawanya membentuk proyek solo bertajuk The Venyamin.
Melalui proyek solo tersebut, ia menemukan ruang ekspresi yang lebih idealis. Meski pada awalnya tidak terlalu memikirkan pasar, seiring waktu ia menyadari bahwa beradaptasi merupakan bagian dari proses bertumbuh sebagai musisi.
Secara genre, The Venyamin mengategorikan musiknya sebagai rock, namun dengan berbagai unsur lain seperti pop, elektronik, hingga eksperimental.
Pendekatan ini dipilih demi kebebasan dalam mengeksplorasi bunyi dan emosi yang ingin disampaikan melalui karya.
Dalam perjalanan kariernya, The Venyamin telah merilis satu album solo berjudul Relic in Religion yang berisi delapan lagu. Selain itu, ia juga merilis dua single, yakni Gold Seekers dan Keramaian Yang Liar, yang merupakan hasil kolaborasi dengan Baskara Putra atau Hindia. Total, terdapat sepuluh lagu yang telah dirilis dalam proyek The Venyamin.
Pengalaman manggung pun telah membawanya ke berbagai kota, baik di Sumatera Barat maupun luar daerah. Meski sering tampil di Padang, salah satu momen paling berkesan baginya adalah saat tampil di Pestapora 2024 di Jakarta.
Ia tampil di panggung Hingar Bingar setelah terpilih melalui ajang IM3 Collabonation Talent Hunt, di mana dari ratusan peserta, hanya empat musisi yang terpilih.
Tak hanya tampil, The Venyamin juga berhasil keluar sebagai juara pertama ajang tersebut. Pencapaian ini membawanya pada kesempatan langka: diproduseri langsung oleh Baskara Putra (Hindia) bersama timnya. Kolaborasi itu melahirkan single Keramaian Yang Liar, yang menjadi salah satu tonggak penting dalam kariernya.
Dalam mempromosikan karya, The Venyamin memanfaatkan platform digital sebagai medium utama, disertai aktivitas panggung dan tur.
Ia juga aktif di media sosial untuk memperkenalkan musiknya kepada audiens yang lebih luas. Ke depan, ia membuka peluang untuk merilis karya dalam format fisik, terutama untuk album keduanya.
Menanggapi perkembangan skena musik di Sumatera Barat, The Venyamin menilai kondisi saat ini semakin membaik. Ruang tampil bagi musisi dengan karya orisinal kian terbuka, didukung oleh kehadiran media musik lokal yang aktif menggelar berbagai program.
Menurutnya, keberlanjutan ekosistem musik sangat bergantung pada produktivitas para musisi itu sendiri.
Saat ini, The Venyamin tengah menyiapkan sejumlah proyek baru. Dalam waktu dekat, ia akan merilis single bersama band Happysoda, sekaligus mempersiapkan album kedua The Venyamin yang ditargetkan rilis paling lambat Januari tahun depan.
Ia pun berharap musik dari Sumatera Barat dapat semakin dikenal secara nasional hingga internasional, serta mampu membawa nama Padang harum di kancah musik Indonesia. (*)


